KUPU-KUPU TARUM: KPU Badung Gali Nilai Demokrasi di Ogoh-Ogoh ST. ARMADA Muncan
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Badung terus mengembangkan pendekatan kreatif dalam pendidikan pemilih melalui program “Kriya Loka Yowana: Demokrasi Berbudaya”, sebuah inisiatif untuk menggali kreativitas lokal generasi muda Bali dalam membumikan nilai-nilai demokrasi melalui budaya Bali. Melalui program ini, KPU Badung memanfaatkan ekspresi budaya lokal salah satunya tradisi Ogoh-ogoh sebagai medium edukasi demokrasi yang kontekstual, reflektif, dan dekat dengan dunia generasi muda. Ogoh-ogoh tidak hanya menjadi karya seni dan ekspresi kreativitas yowana (generasi muda), tetapi juga merefleksikan nilai kebersamaan, musyawarah, pembagian peran, serta tanggung jawab kolektif. Proses pembuatannya yang melibatkan partisipasi aktif dan kerja sama mencerminkan praktik demokrasi dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam salah satu karya Ogoh-ogoh yang dikaji dalam rangkaian program Kriya Loka Yowana pada 28 Januari 2026 kemarin di Sekaa Teruna Arsa Manu Abdi Dharma (ARMADA) Banjar Muncan, Kapal, Mengwi - Badung, undagi atau konseptor menghadirkan simbol Kupu-Kupu Tarum yang berderet dan saling terhubung. Konsep ini menggambarkan keindahan yang lahir dari perjuangan, sekaligus menegaskan bahwa kekuatan kolektif dan keterhubungan antarindividu menjadi fondasi penting dalam membangun harmoni sosial dan kepemimpinan yang berkelanjutan. Anggota KPU Kabupaten Badung, Agung Rio Swandisara, menegaskan bahwa pendekatan berbasis budaya merupakan strategi penting untuk menanamkan nilai demokrasi kepada generasi muda. “Melalui program Kriya Loka Yowana, kami ingin menegaskan bahwa demokrasi tidak hanya hadir dalam bilik suara, tetapi juga hidup dalam budaya, kreativitas, dan praktik sosial masyarakat. Ogoh-ogoh menjadi media reflektif yang mengajarkan tentang proses, kebersamaan, musyawarah, serta tanggung jawab kolektif. Simbol Kupu-Kupu Tarum yang saling terhubung mengajarkan bahwa kekuatan demokrasi lahir dari kerja bersama, perjuangan kolektif, dan kesadaran akan peran masing-masing dalam membangun keindahan sosial dan kepemimpinan yang berintegritas,” ujarnya. Sementara itu, Adit dan Esa, selaku Undagi Ogoh-ogoh ST. ARMADA Muncan, menjelaskan bahwa konsep Kupu-Kupu Tarum terinspirasi dari pamor Keris Kupu-Kupu Tarum, yang secara filosofis melambangkan keindahan, kewibawaan, perlindungan, kemuliaan jiwa, serta proses panjang menuju kesempurnaan. “Kami mengambil inspirasi dari pamor Keris Kupu-Kupu Tarum yang melambangkan keindahan yang lahir dari ketekunan, kekuatan batin, dan kematangan spiritual. Dalam Ogoh-ogoh ini, Kupu-Kupu Tarum menjadi simbol semangat perjuangan menuju keindahan bahwa setiap keindahan sejati lahir dari proses panjang, kesabaran, dan kerja keras,” jelas Adit dan Esa. Mereka menambahkan bahwa deretan kupu-kupu yang saling terhubung merepresentasikan persatuan, gotong royong, dan keterikatan antarindividu, sebagaimana dalam kehidupan bermasyarakat dan berdemokrasi. “Hubungan antar kupu-kupu kami maknai sebagai pesan bahwa harmoni, kepemimpinan, dan kekuatan kolektif hanya dapat terwujud melalui perjuangan bersama. Seperti pamor keris yang terbentuk melalui proses panjang dan penuh disiplin, demokrasi pun lahir dari proses, etika, dan tanggung jawab,” tambah mereka Melalui program Kriya Loka Yowana: Demokrasi Berbudaya, KPU Badung menegaskan bahwa demokrasi tidak hanya hadir dalam proses elektoral, tetapi juga tumbuh dan hidup dalam tradisi, simbol, dan ekspresi budaya masyarakat. Nilai kepemimpinan berintegritas, partisipasi aktif, gotong royong, serta semangat perjuangan menuju keindahan dan kematangan demokrasi menjadi pesan utama yang ingin ditanamkan, khususnya kepada generasi muda Bali.